4 Fakta Seputar Hoaks Yang Ada Sejak Dulu, dan Kini Makin Marak di Era Media Sosial

By | October 21, 2018

4 Fakta Seputar Hoaks Yang Ada Sejak Dulu, dan Kini Makin Marak di Era Media Sosial – Beberapa waktu yang lalu, kita baru saja dibohongi oleh Ratna Sarumpaet mengenai kabar dirinya dianiaya sekelompok orang. Setelah polisi cepat melemparkan hasil temuannya terungkap bahwa kabar itu hoaks hingga yang bersangkutan mengakuinya. Alih-alih bekas aniaya, nyatanya hanya memar dampak operasi plastik yang baru saja dilakoninya.

Hoaks wanita berumur 70 tahun itu membikin publik miris, pasalnya Indonesia sedang berkabung atas bencana yang terjadi di Palu. Hoaks memang bukan barang baru di media sosial, tapi bukannya berkurang karena menyesatkan tapi justru malah makin marak. Lantas timbul pertanyaan, sebenarnya siapa sih yang mempopulerkan hoaks? Bagaimana awal mula atau sejarahnya bisa ada yang namanya hoaks? Yuk lihat faktanya bareng Hipwee News & Feature!

1. Banyak perdebatan tentang kapan pertama kali hoaks mulai. Tapi beberapa sumber meyakini hoaks sudah ada sejak tahun 1600an

Melansir Kumparan, hoaks pertama yang tercatat sejarah adalah pada tahun 1661. Kebohongan tersebut dilakukan oleh seorang seorang penulis bernama Glanvill yang menuliskan kisah rekaan dalam bukunya. Glanvil menggunakan kasus perseteruan antara John Mompesson dengan William Drury (seorang drummer band dari kaum gipsi). Mompesson adaah seorang tuan tanah yang berhasil memenangkan perkara dari Drury dan berhak atas harta darinya–salah satunya adalah drum.

Setelahnya, Mompesson kemudian menuduh Drury telah mengirim guna-guna ke rumahnya dengan dalih ia kerap diganggu oleh suara-suara drum di malam hari. Drury dikatakan telah dikaitkan dengan sekelompok gipsi. Cerita inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh Glanvill yang memperparah tuduhan tersebut dengan menuliskannya dalam bukunya. Kisah horor palsu itu berhasil menaikkan penjualan bukunya dan akhirnya ia mengakui bahwa semuanya hanya kebohongan belaka. Kasus tersebut dikenal dengan kisah Drummer of Tedworth.

 2. Sejarah mengapa dinamakan hoax ada sangkut pautnya dengan istilah sulap. Sekarang istilah hoaks telah masuk dalam KBBI

Kata ‘hoax’ diyakini sudah ada jauh sebelum hoaks pertama tercatat, yaitu berasal dari kata ‘hocus’. Kata ‘hocus’ sendiri merupakan dedahan dari mantra ‘hocus pocus’ yang biasa disebutkan oleh pesulap kala sedang beraksi –sama maknanya seperti ‘sim salabim’.
Kali pertama kata hoax masuk ke dalam istilah bahasa Inggris sejak era industri. Menurut Lynda Walsh dalam buku berjudul Sins Against Science, diperkirakan ‘hoax’ pertama kali muncul pada 1808. Sedangkan kata hoaks masuk ke dalam KBBI Indonesia edisi V tahun 2016 lalu. Bentuk katanya nggak berubah, kecuali pengalihan huruf ‘x’ pada kata ‘hoax’ menjadi ‘hoaks’.

3.Nggak cuma Ratna Sarumpaet, dalam sejarahnya pun hoaks kerap dilakukan oleh tokoh-tokoh besar semacam Edgar Allan Poe bahkan mantan Menteri AS, Benjamin Franklin. Miris!

Sebenarnya hoaks yang dilakukan oleh tokoh seperti yang dilakukan Ratna Sarumpaet kemarin bukanlah barang baru. Melansir Britannica.com, tokoh-tokoh besar lintas generasi sampai lintas disiplin pernah terbukti melakukannya. Salah duanya adalah penulis Edgar Allan Poe dan mantan menteri AS Benjamin Franklin.

Allan Poe sering menggunakan rekayasa cerita untuk bukunya. Sebagai editor dari Southern Literary Messenger di Richmond, ia secara khusus menerbitkan (1835) ‘The Unparalleled Adventure of One Hans Pfaall,’ dan mengatakan bahwa dirinya adalah perwakilan langsung dari seorang pria yang–katanya–telah terbang ke bulan dan tinggal di sana selama 5 tahun dengan menggunakan balon udara. Sedangkan Benjamin Franklin telah membohongi publik pada tanggal 17 Oktober 1745 dengan membuat berita dalam surat kabar Pennsylvania Gazette menemukan obat yang dapat menyembuhkan rabies, kanker, dan sejumlah penyakit lainnya. Ngeri bangetnya? Makanya tabbayundulu.

4.Dulu tahun 1600-an mungkin orang susah untuk tahu infomasi mana yang hoaks, sekarang di era digital sejatinya sebenarnya mudah untuk menangkal hoaks. Intinya sih check and recheck

Dulu kasus-kasus hoaks tercatat mudah berkembang dikarenakan minimnya literatur untuk menguji fakta, media massa pun mungkin bisa dihitung jari. Praktis orang cenderung mudah percaya pada apa yang tampaknya masuk akal menurut mereka –biasanya hanya didasarkan pada keyakinan agama atau penemuan ilmiah. Banyak dari apa yang diketahui secara ilmiah pun hanya dibangun di atas spekulasi, bukan pada penyelidikan tanpa disertai telaah lebih lanjut.

Itulah beberapa fakta mengenai asal mula dan sejarah mengenai hoaks di dunia. Nah di era digital seperti sekarang ini, di mana mencari buku, jurnal, dan rujukan terpercaya lainnya serba mudah sudah sepantasnya dong kita sebagai generasi milenial lebih mudah menangkal hoaks. Intinya sih apapun beritanya, siapapun penyebarnya, selalu cek terlebih dahulu kebenarannya berulang-ulang. Dan jangan pernah menyebarkan ke media sosial sebelum semuanya benar. Biar kamu nggak jadi bagian dari penyebar hoaks.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *